Macet, solusinya ?

Fajar mulai muncul, tak lama kemudia adzan subuh pun berkumandang, memanggil para umat Nabi Muhammad saw untuk bangun melakukan ritual”senam pagi” yang terdiri atas dua rakaat dan diawali dengan ritual bersuci. Usai “senam pagi”, sang ayah bersiap-siap untuk mandi, dan berpakaian rapi, sang ibu menyiapkan dua potong roti bakar yang diisi dengan selai coklat atau strawberry serta menyeduh secangkir teh dan menambahkan 1 sendok teh gula pasir sebagai pemanis rasa. Pukul 06:30, sang ayah berangkat ke kantor dibilangan Jakarta selatan, diiringi dengan salam serta kecupan manis dan lambaian mesra sang istri. Anak-anak yang sedang menikmati santapan pagi mereka, tak lupa memberikan salam dan kecupan ditangan sang ayah.
Senja tlah datang, adzan magrib pun tlah terlewat. Belasan menit kemudian adzan Isya pun berkumandang. Sang ayah belum juga datang. Pukul 19:30, selepas Isya, sebuah klakson mobil di depan rumah berbunyi, pertanda sang ayah tlah datang dan sang ibu menyambut sang ayah dengan penuh mesra, serta membantu membawakan tas yang biasa dibawa sang ayah ketika bekerja.Anak-anak pun tak lupa juga berlarian dengan kegirangan menyambut sang ayah, sambil menunjukan sebuah kertas ulangan dengan angka 100 dibagian pojok kanan atasnya.Setelah sholat Isya,santap malam dan bercengkrama dengan keluarga, sang ayah beranjak menuju peraduannya,sang ayah harus beristirahat yang cukup karena besok pagi harus berangkat lagi mencari sesuap nasi dan menyusuri jalan Ibu kota yang macet dan penuh polusi.

Keadaan seperti diatas saya rasa banyak dialami oleh para pegawai mulai dari: Staf biasa, Supervisor, Manager, General Manager, Vice President bahkan mungkin orang-orang yang duduk di barisan BOD (Board of Director) dari suatu perusahaan yang berkantor di kota-kota besar, seperti : Jakarta. Mereka harus berangkat pagi dan pulang malam. Bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk, tapi karena sebuah fenomena kemacetan di kota-kota besar yang hingga saat ini seperti tidak ada solusi bahkan tampak kian bertambah dari hari ke hari.

Menurut anda, bagaimana solusi mengatasi kemacetan lalu lintas yan acapkali terjadi di kota-kota besar seperti : Jakarta, Surabaya dan kota-kota lain ini?
Apakah ada saran dari rekan-rekan pembaca ?

& Komentar

  1. Menurut saya, langkah pertama adalah stop produksi mobil dan impor. Mungkin nggak ya ?
    Langkah kedua yaitu dengan menambah transportasi massa yang layak dan nyaman, agar masyarakat mau menggunakannya. Itu dulu mungkin, ada yang mau menambahkan ?

    pramudyaputrautama bersabda : Terima kasih mas Rayyan buat pendapatnya.
    Mungkin untuk langkah pertama yang mas Rayyan sarankan saya komentari sedikit. Hal tersebut mungkin saja bisa terjadi, dengan menstop produksi mobil didapat beberapa manfaat : kemacetan lalu lintas berkurang, polusi udara berkurang, tingkat penggunaan BBM dalam transportasi juga berkurang sehingga alokasi subsidi BBM bisa digunakan di pembangunan di sektor lain. Akan tetapi dengan menstop produksi mobil selain memberikan manfaat juga menimbulkan masalah lain yang tidak kalah pelik terutama di bidang lapangan kerja, dengan distopnya produksi mobil, tentu saja produsen mobil akan mengurangi jumlah pekerja secara signifikan, dan hal ini dapat menyebabkan pengangguran.

    Langkah kedua, saya setju banget dengan pendapat anda, mungkin saya tambahin sedikit, yaitu : menyediakan sarana transportasi yang LAYAK (dilihat dari segi keamanan dan keselamatan), NYAMAN, serta TERJANGKAU (terjangkau disini bukan hanya berarti murah, tapi juga terjangkau untuk semua lapisan masyarakat). Selain itu sebenarnya langkah kedua ini merupakan solusi juga apabila dilakukan langkah pertama, yaitu : membuka lapangan kerja baru apabila dilakukan penyetopan produksi mobil oleh produsen mobil.

  2. Alternatif lain, bangun infrastruktur IT (backbone) yang memadai sehingga memungkinkan mobile working dari mana saja sehingga kalau pekerjaaan bisa dikerjakan secara remote dari rumah kenapa harus ke kantor to? Jadi menghemat jumlah mobil dan orang yang menuju ke kantor & pulang dari kantor.

    pramudyaputrautama bersabda : Wah terima kasih pak jmzach, ide anda sangat briliant sekali.
    Saya juga mempunyai pendapat serupa dengan pak jmzach, yaitu : telecommuting atau home working (akan saya posting dikesempatan yang lain). Dengan kemajuan teknologi saat ini (terutama di Jakarta dan kota-kota besar )saya rasa hal ini bukan suatu hal yang mustahil. Saat ini telah tersedianya jaringan broadband Internet berkecepatan tinggi, ataupun berkecepatan medium, seperti : Jaringan Kabel ADSL (Telkom speedy), GPRS dan EDGE (Operator Seluler GSM, seperti : Telkomsel, Indosat serta XL). Jadi mengapa kita tidak mulai saja budaya telecommuting atau home working dari sekarang?
    Bukankah dengan begitu bisa mengurangi kemacetan, tingkat polusi serta tingkat penggunaan BBM dalam bidang transportasi.

    Sebuah pertanyaan muncul : Apakah Instansi pemerintah atau perusahaan-perusahaan di kota-kota besar di Indonesia siap dengan budaya telecommuting atau home working tersebut ?
    Bagaimana dengan Anda, anda dan anda, apakah anda sudah siap dengan budaya tersebut ?

  3. Mungkin pertama dipajak, pajak mobil/motor kedua berkali-kali lipat lebih mahal dari pajak mobil/motor pertama, dst. Agar tidak orang yang membeli mobil/motor dengan mencatut nama orang lain, Pemilik BPKB haruslah orang yang juga mempunyai NPWP.
    Kedua, membangun jaringan subway yang terintegrasi dengan busway dan stasiun KA yang sudah ada (mahal memang, tapi efektif dan bebas polusi).
    Ketiga, perbanyak mobil/motor ber-BBG ataupun Bio Fuel seperti yang sedang banyak dikampanyekan di Eropa dan AS, mengingat cadangan BBM dalam hitungan puluhan tahun mendatang akan semakin menipis.
    Itu baru ide saya, kebetulan saya juga sudah mengalihkan moda transportasi saya ke KRL (Kereta Listrik), murah, cepat dan bebas polusi serta itung2 membantu mengurangi dampak Pemanasan Global…. hehehehe….

    pramudyaputrautama bersabda : Wah terima kasih banyak rekan Eddy atas ide-idenya. Mungkin sedikit saya komentantari.Kesatu, dengan menaikan pajak yang berlipat tentu para pembeli mobil / kendaraan akan berpikir dua kali, saya setuju sekali.
    Kedua : Saya setuju dengan ide kedua anda, memang pembangunan sarana ini mahal, akan tetapi apabila dapat direalisasikan, saya rasa bisa menjadi salah satu alternatife penyediaan angkutan massa yang nyaman dan sekaligus menanggulangi kemacetan di jakarta dan kota-kota besar lain.
    Untuk ide anda ke satu dan ke tiga, mungkin agak sedikit saya komentari.
    Ketiga : Mungkin saya agak kurang setuju dengan kata “memperbanyak” pada ide ketiga anda. Bukannya memperbanyak malah menambah kemacetan ? Saya lebih setuju dengan menggunakan kata “mengalihkan (dengan tetap membatasi) produksi mobil ber-BBM menjadi mobil ber-BB Biofuel, serta membatasi produksi mobil ber-BBM”, sehingga dengan dibatasinya produksi mobil dan mengalihkan ke produksi mobil berBB Biofuel, maka konsumsi BBM akan berkurang, dengan berkurangnya konsumsi BBM maka dapat juga mengurangi polusi serta mengurangi subsidi pemerintah yang dikucurkan untuk mensubsidi BBM, sehingga dapat digunakan untuk membangun / mensubsidi bidang-bidang lain, misalnya : pertanian, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. :)

  4. Baca aja dulu ah

    pramudyaputrautama bersabda : Loh kok cuma baca aja, Pak. silakan koment, mungkin sampeyan punya unek-unek atau masukan yang berarti. :)

  5. nah, saatnya di bisikin ke penggede2 yang sedang duduk nyante di gedung yang katanya perwakila rakyat itu Pram….!biar bisa di realisasikan…:))

    pramudyaputrautama bersabda : Sip,Za setuju banget ama kamu.

  6. Harus ada pemerataan pembangunan ke seluruh Indonesia. Kalau perlu ibukota negara dipindah ke luar jawa …

    pramudyaputrautama bersabda : Betul sekali pak oemar bakrie perlu adanya pemerataan pemangunan ke seluruh Indonesia.

    Ibukota negara pindah ?
    lah yang kuat nggotong itu siapa,pak ?hehehe becanda.
    Saya setuju dengan pendapat sampeyan, pindah ibukota negara, kalo perlu (dan menurut saya harus) di luar jawa. Memang hal ini mungkin terlihat memerlukan biaya banyak, tapi kalo sedikit demi sedikit pasti ibukota negara bisa dipindahkan juga. Selain itu untuk calon ibukota juga perlu dipersiapkan segala perencanaanya, baik dari segi prasarana dan sarana serta tidak ketinggalan tata kotanya.

  7. Saya berpendapat kalau ibukota negara pindah diluar jawa sekalipun tidak akan mengurangi kemacetan kalau pusat ekonomi tetap ada di ibukota karena penduduk indonesia akan menuju ibukota yang baru yang terjadi hanya memindahkan tujuan urbanisasi dari Jakarta ke kota lain katakanlah kota Palangkaraya karena ada gula ada semut kata pepatah, langkah tepat adalah bembatasan kepemilikan kendaraan ( di komplek sebelah satu rumah mobilnya 6 he ) dan usia kendaraan dibatasi ( seperti di Singapura dan Jepang ), menyediakan sarana transportasi yang memadai bagi semua lapisan masyarakat, pemerataan pembangunan ( terutama wilayah timur Indonesia) sehingga mengurangi laju urbanisasi di Jakarta.

    Untuk ide Alternatif lain, bangun infrastruktur IT (backbone) oleh sdr Imzah saya setuju sekali namun berapa gelintir karyawan sih yang sudah bekerja dengan 100% IT base di Jakarta, karena 95 % masih sebagai karyawan yang ditunggu kehadiranya di kantor karena banyak bos yang lebih senang anak buahnya kerja didepan matanya dari pada mereka yang membawa pekerjaan dirumah, demikian pula untuk pekerja pabrik tidak mungkin menggunakan IT di rumah.

    Mungkin pendapat saya adalah pindahkan pabrik yang berada di dalam kota.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar